Kamis, 28 Oktober 2010

Perlukah Seks di Saat dan Setelah Kehamilan


Hal ini akan terjadi di saat Anda memasuki masa kehamilan dan setelah melahirkan. Biasanya, kebanyakan pasangan mengalami intensitas yang cenderung menurun untuk berhubungan intim.

Namun psikolog Stephanie Buehler, PsyD, CST, seorang terapis seks bersertifikat di Orange County, California mengatakan, seks selama kehamilan dan setelah melahirkan adalah subyek yang mengilhami berbagai reaksi dan perilaku, tergantung pada si wanita.


Sebagai terapis seks, kebanyakan kaum hawa selalu menanyakan padanya seputar hubungan intim di saat dan pasca kehamilan. Seperti dikutip dari laman Momlogic.com, berikut pertanyaan penting seputar seks yang biasa ditanyakan para ibu:

1. Keinginan seksual seperti apa yang banyak diinginkan wanita selama kehamilan?



Keinginan wanita saat hamil benar-benar bervariasi, beberapa dari mereka ada yang sangat menginginkan hubungan seksual secara intens, namun ada pula yang merasa terlalu lelah dan sangat sedikit menginginkan hubungan intim dengan suami.

Secara umum, wanita merasa tubuhnya tidak seksi terutama pada trimester pertama, ketika mereka mencoba untuk mengatasi morning sickness. Pada trimester kedua, mereka mungkin merasa lebih baik dan memiliki lebih banyak energi untuk melakukan seks. Beberapa wanita merasa ingin berhubungan seks ketika usia kandungannya memasuki trimester ketiga, namun banyak juga yang mulai merasa lelah.

Mencari posisi yang nyaman untuk berhubungan seks juga dapat menjadi masalah. Sebagai saran, Anda dapat mencoba posisi lain, seperti "menyendok" atau posisi belakang, untuk membuat hubungan intim lebih mudah.

2. Suami tak menginginkan hubungan seks saat hamil, apa yang salah?

Jujur saja, beberapa pria tidak menemukan gairah dan keseksian pada tubuh wanita hamil. Mereka mungkin hanya melihat tubuh istri mereka sebagai mesin pembuatan bayi daripada untuk kenikmatan seksual.

Rata-rata pria takut melakukan hubungan seks karena khawatir menyakiti si jabang bayi. “Lebih lucunya lagi, sebagian pasangan takut, kalau bayi mereka tahu bahwa ayah dan ibunya sedang berhubungan seks,” kata Buehler.

Buehler pun menyarankan lebih baik untuk berbicara terus terang dengan pasangan untuk memahami perasaan-perasaan atau ketakutan dan memikirkan bagaimana Anda berdua bisa lebih bahagia.

3. Apakah berhubungan seks saat hamil membahayakan bayi?

Jika Anda berada dalam kesehatan yang baik dan tidak memiliki risiko yang membahayakan seperti keguguran sebelumnya atau terkait dengan usia, maka seks tidak akan mengganggu kehamilan. Ada beberapa kekhawatiran jika mencapai orgasme. Banyak anggapan dapat menyebabkan kontraksi dan menyebabkan kelelahan. Anda harus berkonsultasi dengan dokter kandungan jika Anda mempunyai keluhan apapun.

4. Apa yang terjadi pada bayi ketika wanita hamil mengalami orgasme?

Setiap hubungan yang telah mencapai orgasme, menurut terapis seks, akan menghasilkan endorfin atau "kimia bahagia" bagi si calon ibu. “Apa yang dirasakan ibu, bisa membuat bayi merasakan hal yang sama, namun tidak ada salahnya dan tidak ada efeknya untuk si bayi,” kata Buehler. Anda mungkin merasakan kontraksi, tetapi jika hubungan yang dilakukan berlangusng lama, ini adalah normal. Maka nikmati saja!

5. Aturan umum melakukan seks adalah menunggu enam minggu setelah melahirkan bayi. Apakah ini cocok untuk semua orang?

Tidak! "aturan enam minggu " umumnya merujuk pada waktu yang diperlukan untuk rahim kembali ke ukuran semula, sebelum bayi lahir dan untuk memulihkan kondisi rahim.

Setiap wanita memiliki proses penyembuhan yang berbeda. Dtambah lagi, Anda pasti merasa lelah merawat bayi. Jadi, mungkin Anda tidak terlalu berselera melakukan senggama bersama suami.

Jika Anda membutuhkan satu atau dua minggu lagi untuk berhubungan, jalani saja. Pastikan bahwa Anda dan suami meluangkan waktu untuk tetap terhubung secara fisik dengan memeluk, memegang tangan, saling memijat atau mandi bersama.

6. Suami merasakan kesedihan secara tiba-tiba setelah kehadiran bayi. Apa yang bisa menenangkan suasana hatinya?

Ternyata, pria juga mungkin mengalami depresi post-partum. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa sebanyak 10 persen pria Amerika menjadi tertekan setelah kehadiran bayi.

Hal ini mungkin dipicu karena kelelahan, kesulitan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar atau perasaan campur aduk saat menjadi seorang ayah. Menyadari kemungkinan ini, jangan ragu untuk mencari bantuan jika Anda melihat suami Anda menjadi tertekan. Tanda-tanda depresi pada pria adalah menarik diri, jadi mudah tersinggung, kurang nafsu makan, mengonsumsi alkohol atau perubahan kebiasaan lainnya. (adi)


Sumber: VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar